Sunday, 22 September 2013

Haji Mabrur Bukanlah Misteri

By Unknown | At 23:21 | Label : | 0 Comments
 Akhir wukuf di Arafah (inet)
dakwatuna.com. Banyak orang menjadikan haji mabrur sebagai sebuah misteri. Sehingga kadang menjadi monopoli seseorang untuk mengatakan bahwa hajinya mabrur, dan haji orang lain tidak. Kalau kita mengetahui maknanya, haji mabrur adalah sesuatu yang jelas, dan bisa kita usahakan.
Rasulullah saw. berjanji bahwa orang yang hajinya mabrur akan diampuni semua dosanya, dan akan dimasukkan ke dalam surga. Oleh karena itu haji mabrur menjadi keinginan setiap orang.
Secara bahasa, haji seseorang akan dikatakan mabrur di antaranya jika orang tersebut melakukan amal-amal al-birr dalam pelaksanaan hajinya. Sedangkan amalan al-birr mempunyai beberapa makna, di antaranya:
Makna Pertama, Berbuat Baik kepada Orang Lain
Suatu kali Rasulullah saw. ditanya tentang maksud al-birr. Beliau menjawab, “Al-birr adalah akhlak yang baik.” [HR. Muslim]. Beliau juga berkata, “Al-Birr itu adalah hal yang sangat sederhana; menampakkan wajah yang cerah, dan menuturkan kata-kata yang lembut.” [HR. Al-Baihaqi].
Bersikap ramah dan berkata lembut sangatlah diperlukan dalam ibadah haji. Menurut para ulama, dua hal itu menunjukkan perintah untuk melakukan segala sikap yang baik; dengan lisan maupun perbuatan. Hal itu karena menunaikan ibadah haji memerlukan perjalanan jauh,
Dalam bahasa Arab, perjalanan disebut dengan kata “safara” yang bermakna menampakkan. Disebut demikian karena perjalanan memang bisa menampakkan perangai asli seseorang. Egoisme, tidak sabaran, pemarah, akan tampak dalam perjalanan. Menahan dan merubah perangai buruk adalah hal yang sangat berat. Sehingga tidak mengherankan jika diterima-tidaknya sebuah haji.
Di antara bentuk akhlak mulia bagi seorang musafir adalah membantu dalam hal bekal perjalanan, tidak banyak berbeda pendapat apalagi berdebat, dan banyak bercanda yang tidak membuat murka Allah swt. Tanpa hal-hal itu, suasana haji yang seharusnya bersifat ukhrawi akan berubah menjadi suasana yang penuh pertengkaran, rebutan, dan sebagainya. Karena jumlah mereka sangat banyak; masing-masing memiliki kebutuhan dan keinginan.
Ada seorang ulama yang membuat sebuah kesimpulan bahwa melayani sesama musafir lebih utama daripada ibadah yang dilakukan sesaat. Apalagi jika karena ibadah, seseorang jadi tergantung kepada bantuan orang lain.
Ada sebuah kisah, seorang ahli ibadah bernama Bahim Al-‘Ajaly pergi haji bersama seorang yang kaya. Di awal perjalanan mereka, Al-‘Ajaly menangis. Beliau berkata, “Perjalanan ini mengingatkanku kepada perjalanan menuju Allah swt.” Kemudian beliau menangis sejadi-jadinya. Kejadian ini membuat orang kaya itu khawatir akan repotnya bepergian bersama orang yang seperti ini.
Ketika pulang haji, ada seseorang yang menemui orang kaya tersebut. Dia bertanya, “Bagaimana perjalanan bersama Al-‘Ajaly?” Orang kaya tersebut menjawab, “Demi Allah, aku tidak yakin ada manusia seperti beliau. Beliau memenuhi kebutuhan-kebutuhanku, padahal beliau miskin sedangkan aku kaya. Kalau ada hal yang perlu dikerjakan, beliau juga yang mengerjakannya, padahal beliau sudah tua sedangkan aku masih muda. Beliau juga yang memasak makanan, padahal beliau sedang berpuasa sedangkan aku tidak.”
Lain lagi dengan kisah Abdullah bin Mubarak. Bila hendak menunaikan ibadah haji, beliau menawarkan kepada sahabat-sahabatnya, “Siapa yang ingin menunaikan ibadah haji?” Kalau ada yang mau, beliau mengambil uang-uang mereka. Beliau masukkan ke dalam sebuah peti, lalu beliau tutup dan kunci rapat-rapat. Selama dalam perjalanan dan melaksanakan ibadah haji, beliau memenuhi seluruh kebutuhan mereka; memberi mereka makanan yang enak-enak; dan memberi mereka hadiah-hadiah untuk dibawa ke kampung halaman. Setelah selesai dan pulang dari haji, beliau mengumpulkan mereka lagi dengan membawa peti. Lalu beliau kembalikan semua uang mereka yang tersimpan utuh dalam peti tersebut.
Makna Kedua, Melaksanakan Semua Ketaatan dan Meninggalkan Kemaksiatan
Selain melaksanakan semua ibadah wajib, seorang haji juga hendaknya banyak melaksanakan ibadah sunah. Seperti Rasulullah saw. yang selalu melaksanakan qiyamullail walaupun dalam perjalanan. Beliau melakukannya di atas untanya. Ada seorang ulama Yaman bernama Al-Mughirah bin Al-Hakim yang pergi haji dengan berjalan kaki. Setiap malam beliau menghabiskan sepertiga Al-Qur’an. Kadang beliau berhenti jalan untuk menghabiskannya dalam shalat. Pagi harinya baru beliau menyusul rombongan. Kadang baru dapat bertemu dengan mereka di sore hari.
Selain amalan al-birr, seorang haji yang ingin mabrur hajinya juga hendaknya meninggalkan semua yang dilarang Allah swt. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” [Al-Baqarah: 197].
Disebutkan pentingnya berbekal taqwa. Beberapa ulama salaf berkata, “Bertakwalah. Sesungguhnya orang yang bertakwa tidak akan merasa sendirian.” Bertakwa berhubungan sangat erat dengan meninggalkan larangan Allah swt. Karena takwa artinya adalah takut siksaan-Nya, sehingga tidak melakukan sebuah dosa.
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah bekal perjalanan haji. Bekal haji harus dari harta yang halal. Bagaimana mungkin mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan harta yang tidak suci? Bagaimana mungkin membersihkan diri dengan amalan yang kotor? Bekal yang tidak suci akan membebani kita dalam beramal. Kalaupun bisa beramal, amalan itu tidak akan diterima Allah swt., karena Allah swt. hanya menerima hal-hal yang suci.
Hal yang sama pentingnya adalah menjaga niat hajinya. Jangan sampai haji tersebut diniatkan untuk riya’ (supaya dilihat orang lain), sum’ah (supaya didengar orang lain), berbangga-banggaan, sombong, dan sebagainya. Hendaknya haji diniatkan ikhlash hanya untuk Allah swt., kemudian dilaksanakan dengan penuh khusyu’ dan tawadhu’. Kalau tidak demikian, haji hanya menjadi amalan yang sia-sia.
Pernah ada orang yang berkata kepada Ibnu Umar ra., “Sungguh banyak orang yang melaksanakan haji.” Beliau menjawab, “Sungguh sedikit orang yang melaksanakan ibadah haji.” Kemudian ketika datang seorang yang sangat lusuh, menunggang unta yang kurus, beliau berkata, “Mungkin inilah orang yang melaksanakan haji.”
Syuraikh mengatakan, “Orang yang melaksanakan haji itu sedikit walaupun rombongan haji itu banyak. Sungguh banyak orang yang melakukan kebaikan, tapi sungguh sedikit dari mereka yang mengharap ridha Allah swt. Banyak orang yang bepergian mengarungi padang pasir, tapi yang sampai kepada tujuan hanyalah sedikit.” Wallahu A’lam

Simulasi Jumlah 7 Miliar Penduduk Bumi dalam Satu Halaman Situs Web

By Unknown | At 23:16 | Label : , | 0 Comments

Cuplikan situs 7billionworldcom. (dakwatuna/hdn)
dakwatuna.com - Saat ini jumlah penduduk bumi telah mencapai 7 miliar jiwa. Bagaimana jika jumlah tersebut digambarkan dalam 1 halaman situs web? Kira-kira sebesar apa situsnya?
Adalah 7billionworld.com mencoba mensimulasikan hal tersebut. Di situs ini kita bisa melihat setiap individu yang ada di bumi satu per satu, dalam bentuk icon manusia. Jumlah icon tersebut mencapai 7 miliar sesuai dengan jumlah penduduk bumi.
Dengan jumlah icon yang luar biasa banyak, maka diperkirakan situsnya memiliki tinggi 1,6 Km dan lebar 250 meter (tergantung resolusi monitor). Tentu saja ini bisa dibilang situs yang memiliki tinggi dan lebar terbesar di dunia, karena berisi 7 miliar manusia!
Tapi mengapa situs sebesar itu bisa dibuka di browser dengan cepat? Ini karena halaman depan situs itu hanya sebesar 13 Kb, ukuran yang kecil berkat penggunaan salah satu teknik CSS (background properties) untuk mereproduksi gambar icon manusia sebanyak 7 miliar.

Perancang R4BIA Ungkap Rahasia Warna Kuning dan Hitam

By Unknown | At 23:10 | Label : , | 0 Comments
dakwatuna.com – Kairo. Sebuah surat kabar Turki melakukan wawancara dengan dua orang perancang simbol R4BIA yang telah menyebar ke seluruh dunia dalam waktu yang sangat singkat, hari Rabu (18/9/2013) kemarin.
R4BIA adalah sebuah simbol berwarna kuning yang di tengahnya terdapat gambar tangan yang membuka empat jari berwarna hitam. Simbol ini digunakan untuk menunjuk pembantaian yang dilakukan pemerintah kudeta terhadap para demonstran di Bundaran Rab’ah Adawiyah.
Dua perancang R4BIA, yaitu Shalihah Irene dan Cihad Dulles, menyebutkan bahwa simbol ini menunjukkan teriakan protes terhadap kekejaman pembantaian yang terjadi di Rab’ah.
Mereka menerangkan bahwa warna kuning menunjuk kepada kota Al-Quds di Palestina, sedangkan warna hitam menunjuk kepada Ka’bah di Mekah Saudi Arabia.
Irene mengatakan bahwa hanya ada satu hal yang dikhawatirkannya, yaitu manusia. Dia bekerja desain grafis selama 12 tahun, bekerja sebagai sukarelawan di sebuah media berita yang menggunakan facebook, Haber Seyret.
Sedangkan Cihad mengatakan bahwa warna hitam menyatukan antara Ka’bah dengan kesedihan. Dia adalah seorang insinyur. Dia bekerja di Haber Seyret juga sebagai sukarelawan selama dua tahun.
Tentang warna kuning, Irene mengatakan bahwa warna itu sudah dilihatnya selama bertahun-tahun. Saat itu matahari sangat terik berada di atas masjid Kubah Shahrah di Al-Quds. Setiap kali umat Islam melakukan perlawanan terhadap kekejaman, aku selalu teringat dengan kuatnya warna kuning di masjid Kubah itu.
Sedangkan warna hitam melambangkan kesedihan yang meliputi Bundaran Rab’ah Adawiyah. Warna itu juga sudah pernah aku lihat di Rab’ah, yaitu ketika bulan Ramadhan sebelum terjadinya pembantaian 14 Agustus. Saat itu ada seorang ibu tua yang memakai pakaian serba hitam melakukan shalat ke arah kiblat dan menengadahkan tangannya ke atas.
Ini mengingatkanku kepada Ka’bah yang kita sucikan. Setiap kali kehilangan arah dalam kehidupan, kita selalu menemukan jalan untuk kembali. Kita mengarahkan wajah kita ke arah Kiblat.

Kenapa Kita Harus Curiga Pada PKS?

By Unknown | At 23:07 | Label : , | 0 Comments
dakwatuna.com - Selepas pembantaian rakyat sipil oleh rezim kudeta militer di Mesir beberapa waktu lalu, kalangan aktivis Islam Indonesia dibuat geger oleh kicauan dua tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) di jagad Twitter. Dua intelektual muda JIL itu, Ulil Abshar Abdalla dan Zuhairi Misrawi berkicau tentang bahaya kaum islamis bagi negara dan bangsa Indonesia.
Zuhairi Misrawi mengatakan dalam akun twitternya, “kaum Islamis di negeri ini patut bersyukur, karena kita tidak akan membunuh mereka. Di Mesir, mereka dibunuh dan dinistakan”. Kontan saja kicauan yang berbau fasisme itu mengundang kritikan di sosial media.
Twit Ulil Abshar Abdalla menjelaskan siapa ‘kaum Islamis’ yang dimaksud. Dalam twitternya, mantan koordinator JIL itu mengatakan: ““Tak mau Indonesia mengalami problem Mesir? Jangan biarkan kekuatan Islamis membesar di Indonesia. Itu kata kuncinya,” di waktu berbeda Ulil sampaikan, “Tugas kita adalah melakukan kritik terus-menerus agar ideologi Islamis di Indonesia yang dibawa PKS tak meluas pengaruhnya,” kicau @ulil.
Kita tidak akan bahas bagaimana reaksi kelompok-kelompok gerakan Islam terhadap kicauan dua tokoh paling moncer di Jaringan Islam Liberal itu, tanggapan Fahri Hamzah, wakil Sekjen PKS, cukup mewakili bagaimana PKS menghadapi kicauan tokoh muda yang pemikirannya tidak populer di kalangan Nahdlatul Ulama tersebut.
Dalam akunnya, @Fahrihamzah katakan: “ulil dan kawan-kawan gak usah khawatir dengan PKS, sebab prosedur menjatuhkannya ada dalam jadwal demokrasi kita..,” kicaunya.
Dari ‘perang maya’ tersebut menarik memang melihat fakta bagaimana seorang Fahri Hamzah dari kalangan Islamis mengedepankan sistem demokrasi untuk menerima peralihan kekuasaan, “prosedurnya ada dalam jadwal demokrasi kita” katanya., namun pada saat yang sama seorang liberalis dan pembela asas-asas demokrasi seperti Zuhairi dan Ulil justru terkesan mencari-cari celah untuk membenarkan kudeta terhadap pemerintah yang dipilih secara sah dan konstitusional melalui prosedur-prosedur demokrasi. Kicauan Ulil dan Misrawi ini berbanding terbalik dengan apa yang kerap mereka presentasikan dalam seminar-seminar mengenai penerimaan terhadap demokrasi, prinsip-prinsip egalitarianisme, humanisme, dst. Padahal pada zaman modern dan manusiawi ini, kita semua tahu, jika boleh mengutip Fahri Hamzah, “untuk atau atas nama apapun kepemimpinan sipil haram dijatuhkan secara militer apalagi dengan alasan kepuasan publik. Survey boleh menunjukkan kepuasan di bawah 50% kepada presiden @SBYudhoyono tapi dia haram dijatuhkan secara kudeta. Presiden di negara demokrasi hanya bisa dijatuhkan via pemilu atau karena melakukan pelanggaran hukum berat.”
Ketakutan terhadap PKS
Saya mencoba memahami ketakutan Ulil, Misrawi, dan kalangan yang satu mazhab dengan mereka secara pemikiran terhadap kekuatan islamis-terutama PKS. Tampaknya PKS dalam pandangan kelompok liberal adalah gerakan Islam yang hanya memanfaatkan prosedur-prosedur demokrasi untuk kemudian menghilangkan demokrasi itu sendiri ketika sudah mendapatkan kekuasaan. Ketakutan kalangan liberal terhadap PKS bisa kita lihat dalam banyak artikel, misalnya tulisan Ahmad Najib BurhaniPiagam Jakarta, dan Piagam Madinah” yang dimuat di salah satu koran Nasional tahun 2004. Juga artikel “Memahami Realitas PKS” karya Happy Susanto (2008) di situs Jaringan Islam Liberal yang mengatakan bahwa PKS secara pure hanya mengadopsi ideologi timur tengah tanpa adanya “indigenisasi” dengan konteks “kekinian dan kedisinian” Indonesia.
Memang di sinilah kelemahan demokrasi. Sistem politik dari Yunani kuno tersebut tidak memiliki ‘self defence mechanism’ atau mekanisme pertahanan diri. Demokrasi akan membiarkan siapapun mengikuti kontestasi pemilu, bahkan kepada kelompok yang paling tidak demokratis sekalipun. Demokrasi secara sah akan—dan harus—mengakuinya secara konstitusional. Dan ketika pemenang pemilu justru membunuh demokrasi itu sendiri di parlemen melalui voting untuk mengganti konstitusi negara dengan sistem selainnya, maka pada waktu itu demokrasi tidak bisa menolong dirinya sendiri.
Hal inilah yang ditakutkan oleh kelompok liberal. Tetapi cara pandang “anak-anak JIL” ini menjadi absurd, ketika pada saat yang sama kelompok kecil ini justru mengakui rezim kudeta Mesir yang terang benderang menodai kanvas demokrasi kita di mana militer melakukan coup d’etat terhadap Presiden Mursi, pemenang sah Pemilu Mesir. Sungguh anomali ketika kita melihat, Fahri Hamzah yang berasal dari kalangan Islamis, justru lebih demokratis daripada Ulil dan Misrawi dari kelompok JIL. Anomali karena selama ini kalangan liberal acapkali menuding kalangan Islamis sebagai kelompok yang tidak demokratis. Terang sudah mana yang betul-betul demokratis, dan mana yang sekadar lips service.
Kenapa Curiga pada PKS?
Melihat keberadaan PKS dalam konteks demokrasi kita memang menarik. Para pengamat politik mengidentifikasi PKS dengan sebutan kaum Islamist democrat (Demokrat Islamis), yakni kelompok Islam yang menjalankan demokrasi, setidaknya demokrasi elektoral, tetapi tetap memperteguh identitas dan agenda-agenda Islam ke dalam kehidupan publik (Mujani, 2004). Istilah islamist democrat ini menurut pengamat politik senior Saiful Mujani, adalah suatu contradictio interminis, atau ungkapan yang mengandung pengertian kontradiktif di dalam dirinya.
Tentu mudah dipahami mengapa fenomena islamis democrat disebut sebagai sebuah kontradiksi, karena selama ini pattern yang terbentuk antara gerakan Islam dan demokrasi adalah dua hal tidak pernah bisa bertemu. Kita bisa melihat pandangan-pandangan tersebut melalui pemikiran-pemikiran Hizbut Tahrir, Jamaah Ansharut Tauhid, dan kelompok-kelompok anti demokrasi lainnya.
Padahal dalam konteks PKS kita akan menemukan pandangan lain. Membahas bagaimana relasi Islam-Negara dalam kacamata PKS adalah hal yang menarik. Lihat bagaimana Anis Matta, Presiden PKS itu memosisikan demokrasi dalam kacamata yang lebih luas alih-alih sempit pikir seperti Hizbut Tahrir yang menghinadina demokrasi sejak awalnya. Dalam kacamata Anis Matta sebagaimana tertuang dalam bukunya Menikmati Demokrasi, demokrasi adalah sebuah kanvas di mana semua orang boleh melukis.
“Semua individu dalam masyarakat demokrasi sama dengan individu lain. Semua sama-sama bebas berpikir, berekspresi, bertindak, dan memilih jalan hidup. Tidak boleh ada rasa takut, ada tekanan, terutama dari militer. Kebebasan hanya dibatasi oleh kebebasan yang sama.”
Anis melanjutkan, “Namun kebebasan (dalam demokrasi) ini ada harganya. Para pelaku dakwah memang bebas menjalankan dakwahnya. Tetapi pelaku kemungkaran juga bebas melakukan kemungkaran. Yang berlaku di sini bukan hukum benar-salah, tapi hukum legalitas. Sesuatu itu harus legal, walaupun salah. Dan sesuatu itu benar tapi tidak legal, adalah salah. Jadi tugas kita adalah bagaimana mempertemukan antara kebenaran dan legalitas. Bagaimana menjadikan sesuatu yang haram dalam pandangan agama, menjadi tidak legal dalam pandangan hukum positif, dan apa yang diperbolehkan oleh agama menjadi legal dalam hukum positif itu.”
Dari pandangan Anis tadi, tampak jelas bagaimana PKS menerima demokrasi sebagai bagian dari cara mereka menyampaikan aspirasi. Sama persis dengan apa yang berada dalam benak kalangan sekuler yang juga menyampaikan aspirasinya lewat demokrasi. Yang berbeda dari keduanya hanya pada tataran ide apa yang diperjuangkan. Dan memang karena itulah demokrasi diperlukan: sebagai melting pot dari ragam ide yang tumbuh di masyarakat. PKS menyampaikan apa yang diinginkannya melalui prosedur demokrasi yang sah dan konstitusional, seraya tetap menghargai keragaman dan multikulturalitas dalam masyarakat. Itulah mengapa PKS menerima demokrasi sebagai sarana perjuangan.
Lihat bagaimana Fahri Hamzah dalam buku tebalnya berjudul, “Negara, Pasar dan Rakyat” (2010) menggambarkan demokrasi, “demokrasi sejalan dengan ide modernisasi yang menuntut adanya perubahan di segala bidang kehidupan. Tradisi Islam bukanlah warisan kaku yang hanya mempertahankan corak klasiknya. Meski pada awalnya Islam tidak mengenal prinsip demokrasi, namun gagasan universal demokrasi sejalan dengan prinsip Islam… tidak ada halangan bagi agama untuk berdampingan dengan demokrasi. Dalam prinsip Islam elemen-elemen demokrasi meliputi prinsip-prinsip tertentu seperti syura, musawah, adalah, amanah, masuliyah, dan hurriyah.”
Pandangan realistis dan akomodatif semacam ini terhadap demokrasi sejatinya sejalan dengan pandangan seorang ulama dunia yang cukup dihormati di Indonesia, yaitu Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya Fiqh Daulah (Fikih Negara)
Khilafah versus Nation State
Menarik sekali apa yang dikatakan oleh John L.Esposito, dalam bukunya Islam and Politics (1985) Esposito mengatakan bahwa di kalangan kelompok-kelompok Islam terdapat kesamaan mengenai “bukan negara Islam”, tetapi justru terdapat perbedaan mengenai “negara Islam”. Apakah ia harus berbentuk Negara trans-nasional atau bolehkah berbentuk nation-state (Negara bangsa)?
Di kalangan gerakan Islam, terma khilafah paling nyaring disuarakan oleh Hizbut Tahrir (HT) sekalipun tidak tampak jelas mau dibawa ke mana arah perjuangan tersebut setelah HT berdiri sejak 1953. Impian tentang khilafah sebagai negara yang adil, makmur, sejahtera, memang membuai sebagian masyarakat. Kejenuhan terhadap realitas yang senjang, kekacauan sosial, dan sebagainya membuat sebagian orang memilih hidup dalam romantisme masa lalu, dan terbuai dalam keindahan masa depan seraya mencela zaman ini.
Jauh sebelumnya, hal serupa sebetulnya telah terimajinasikan dalam benak seorang filosof Muslim, Al-Farabi (870-950) yang memimpikan sebuah negara damai, adil makmur, sejahtera, dan seribu keutamaan lainnya yang ia tuangkan dalam sebuah kitab berjudul Araa Ahl l-Madiinah al-Fadhilah. Sebegitu indahnya Negara tersebut hingga ide al-Farabi itu lebih sering dikritik sebagai sebuah utopia.
Sekalipun sebetulnya secara performa luar kader PKS agak mirip dengan Syabab Hizbut Tahrir, namun pandangan dua kelompok dari gerakan Islam ini rupanya berbeda. Mudah untuk memahami bahwa sebagai gerakan ekstra parlemen yang pekerjaannya “hanya mengkritik”, tentu mudah bagi HT untuk bekerja dan menawarkan solusi-solusi di ranah wacana semata. Dan kita akan paham bahwa negara trans nasional yang didirikan HT akan menjadi “negara yang menakutkan” karena kelompok ini memiliki pandangan untuk membentuk sebuah negara super power “satu negara untuk seluruh dunia Islam” sebagaimana makna khilafah yang dicetuskan oleh pendiri HT, Taqiyuddin an-Nabhani (1909-1979). Artinya selepas kekhilafahan berdiri, maka berikutnya akan terjadi penaklukan-penaklukan ke seluruh dunia untuk melebarkan wilayah kekuasaannya.
PKS tidak memahami khilafah dalam definisi sedemikian. Lihat bagaimana seorang pendiri PKS, Hidayat Nur Wahid menjawab ketika ditanya tentang pandangannya mengenai pemerintahan Islam:
“Jangan berpolemik mengamandemen UUD 1945 untuk menghadirkan pemerintahan Islam (khilâfah Islâmiyah). Kita sudah lelah dengan polemik, akan lebih bijak jika berkonsentrasi untuk melaksanakan ajaran agama. Lebih penting adalah agar seluruh masyarakat Indonesia melaksanakan ajaran agama seperti dalam pasal 29 UUD 1945. Jika agama dilaksanakan oleh semua umat beragama pada tingkat moral dan etos kerja saya kira akan membawa dampak positif bagi moral bangsa.”
Lebih tegas tentang khilafah, HNW melanjutkan:
“Pada zaman sekarang ini, apakah yang namanya kekhalifahan harus berwujud dengan nama khilâfah, bukankah negara republik atau kerajaan pada skala tertentu bisa disebut khilâfah? Apapun namanya, republik atau kerajaan, kalau di situ terlaksana dengan baik nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, keislaman, pemberdayaan, tidak terjadi praktek-praktek korupsi, penindasan, kezhaliman, nepotisme, tirani, dan kemudian terjadi mekanisme kepemimpinan yang islami, bisa disebut sebagai kekhalifahan itu sendiri. Dalam konteks Indonesia yang sudah berbentuk republik, tidak perlu lagi diubah namanya menjadi kekhalifahan.”
Melihat pandangan HNW ini, tak perlu rasanya kita menaruh curiga bahwa jika PKS berkuasa maka NKRI akan hilang diganti dengan Negara agama. Tentu saja pandangan seorang agamawan jebolan Gontor yang telah menghabiskan masa sarjana hingga doktoralnya di Universitas Islam Madinah itu tentulah bukan tanpa pengetahuan. Dalam beberapa konteks, nation-state (Negara bangsa) dengan khilafah sebetulnya tidak perlu saling menegasikan.
Mari kita lihat bagaimana pada tahun 912 M, di Spanyol ‘Abd al-Rahmân al-Nâsir mulai menggunakan gelar khalîfah. Padahal pada waktu yang sama kekhalifahan Bani ‘Abbâsiyyah masih berlangsung di bawah pengaruh Bani Buwaihi. Bahkan pada periode 912-1013, khilâfah Islâmiyah di Spanyol ini telah mencapai puncak kejayaan dan menyaingi Daulah ‘Abbâsiyyah di Baghdâd. Demikian pula halnya yang terjadi pada masa Dinasti ‘Utsmâniyyah di Turki. Pada masa pemerintahan Turki Utsmani berlangsung, berdiri dua pemerintahan Islam, yakni Dinasti Syafawi di Persia, dan Dinasti Mughal di India. (Badri Yatim, 2001)
Kemunculan Kerajaan Syafawi di Persia dan Dinasti Mughal di India yang menyaingi Dinasti Utsmani ini, memiliki konteks yang sama dengan kekhilafahan Islam di Spanyol, yakni keberlangsungan pemerintahan Islam secara bersamaan pada era yang sama, di tempat yang berbeda. Oleh karena itu, sebagaimana di Spanyol, kedua Dinasti ini juga dapat disebut sebagai “khilâfah Islâmiyyah”. Artinya adalah, pada masa itu terdapat begitu banyak pemerintahan Islam, sehingga jika pada konteks kekinian kekhilafahan dibentuk berdasarkan “kekhilafahan-kekhilafahan kecil”, maka itu tidak bertentangan dengan fakta historis di atas.
Demikian juga jika kita melihat bagaimana pandangan Anis Matta tentang symbol agama sebagai nama Negara. Anis Mengatakan “jika substansi telah cukup mewakili nama, maka tak perlu nama mewakili substansi tanpa menafikan nama”
PKS Memperjuangkan Masyarakat Madani
Adalah Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah UIN Jakarta yang merasa beruntung mendapat kesempatan mendalami PKS ketika diundang dalam Milad ke-10 sehingga bisa mengetahui apa sebetulnya tujuan Partai Islam terbesar di Indonesia itu.
Mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah itu mengatakan begini:
Negara Indonesia bagaimanakah yang dicita-citakan PKS? Jawabannya jelas dalam tujuan pendirian PKS: ”Tujuan didirikannya PK Sejahtera adalah terwujudnya masyarakat madani yang adil dan sejahtera yang diridhai Allah SWT dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. PK Sejahtera menyadari pluralitas etnik dan agama masyarakat Indonesia yang mengisi wilayah beribu pulau dan beratus suku yang membentang dari Sabang hingga Merauke”.
‘Masyarakat madani’. Inilah salah satu kata kunci untuk lebih memahami PKS. Apa yang dimaksud PKS dengan ‘masyarakat madani’? Masyarakat madani adalah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada: nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara.
Pengertian genuine dari masyarakat madani itu perlu dipadukan dengan konteks masyarakat Indonesia di masa kini yang terikat dalam ukhuwah Islamiyyah (ikatan keislaman), ukhuwah wathaniyyah (ikatan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyyah (ikatan kemanusiaan) dalam bingkai NKRI”.
Dengan platform ini, sekali lagi, jelas, PKS tidaklah bertujuan membentuk ‘negara Islam’ atau yang semacamnya, melainkan bertujuan membentuk masyarakat madani. Jelas pula, masyarakat madani yang diinginkan PKS adalah masyarakat madani yang berbasiskan agama (religious-based civil society); bukanlah masyarakat sipil atau masyarakat kewargaan yang dalam sejumlah wacana tentang civil society tidak memiliki konotasi apalagi hubungan dengan agama. Konsep masyarakat madani yang akhir ini pada dasarnya merupakan teoretisasi dari pengalaman di Eropa Timur dan Amerika Latin.
Jadi, kita perlu paham bahwa yang diperjuangkan PKS adalah masyarakat madani. Sebuah kehidupan sosial bermasyarakat yang merujuk pada kehidupan pada masa Nabi di Madinah. Bukan lagi pada masa khilafah. Masyarakat madinah adalah masyarakat yang plural, terdiri dari beragam suku dan agama namun hidup bersatu dalam sebuah Negara yang konstitusional dalam sebuah konsensus bersama.
Jika masyarakat semacam ini menjadi inspirasi, tentu saja karena didasari religiusitas masyarakat kita, maka NKRI akan tetap ada, tetap berbhinneka tunggal ika. Jadi tidak perlu paranoid dengan gerakan Islamis democrat.
Partai Islam memperjuangkan idenya, sebagaimana partai selainnya juga memperjuangkan idenya. Semua berkontestasi di dalam pemilu yang sah dan konstitusional.
Jika sudah begitu, Kenapa kita harus curiga pada PKS?

Konflik Suriah & Mesir Sudah Digariskan Dalam Al Quran

By Unknown | At 22:46 | Label : | 0 Comments
 konflik dunia islam
dakwatuna.com – Jakarta.  Konflik yang terjadi di Mesir rupanya telah tertulis dalam Al Quran. Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Bachtiar Nasir mengatakan, ayat Al Quran yang memprediksi konflik Mesir terdapat dalam Surat At-Tin ayat 1-3.
“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi kota (Mekah) ini yang aman,” tutur Bachtiar membacakan terjemahan Surat At-Tin ayat 1-3, saat menjadi narasumber dalam Forum Solidaritas Muslimah Indonesia untuk Derita Mesir di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, tadi malam.
Bachtiar berkata, tafsir dari surat tersebut adalah, “Demi bumi tin di Damaskus (Suriah), dan demi bumi zaitun di Palestina, dan demi bukit Thur yang ada di Sinai (Mesir). Dan demi kota Mekah yang aman.”
Jika dilihat dari kacamata sederhana surat At-Tin, lanjutnya, maka konflik yang terjadi di Suriah, Palestina, dan Mesir, adalah perang global yang sudah Allah takdirkan. Perang itu, kata Bachtiar, bahkan melibatkan seluruh dunia.
Karenanya, Bachtiar menilai, persoalan Mesir jangan dianggap sebagai konflik politik. Sebab, jika melihat persoalan tersebut dari sisi politik saja maka hati akan terasa kosong. Lebih dari itu, ia melihat Allah telah menyiapkan skenario besar dalam peristiwa ini.
Bachtiar meyakini, akhir dari konflik Mesir juga sudah termaktub dalam Surat Al-Qashshash ayat 5 yang menceritakan kisah Musa melawan Firaun.
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi),” bunyi terjemahan dari Surat Al-Qashshash ayat 5.
“Pada akhirnya di ayat itu digambarkan orang-orang yang dilemahkan nanti akan dikuatkan dan diwariskan kekuasaan di Mesir,” tutup Bachtiar.

Wajah-wajah misterius dari Belmez

By Unknown | At 12:07 | Label : | 0 Comments
Dear readers,
Akhir pekan ini, saya ingin menceritakan sebuah kisah yang sangat misterius. Jika kalian mendengarnya, mungkin kalian akan segera mengkaitkannya dengan paranormal activity, sesuatu yang tidak pernah dibahas di blog ini. Namun saya melihat sesuatu yang berbeda dari kisah ini yang membuat saya ingin menceritakannya kepada kalian.


Kisah ini adalah mengenai penampakan wajah-wajah aneh di sebuah rumah yang terletak di desa Belmez de la Moraleda, Spanyol. Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mendengarnya. Tapi mungkin banyak juga yang belum mendengarnya. Jadi kisah ini akan saya ceritakan kembali.

Saya menyebut tulisan ini "Wajah-wajah misterius dari Belmez", kalimat yang cukup misterius. Bahkan saya bisa membayangkan kalimat ini digunakan oleh Agatha Christie untuk judul salah satu bukunya.

Baiklah, saya akan memulainya. Kisah ini bermula pada tanggal 23 Agustus 1971. Di desa yang saya sebutkan tadi, saya singkat saja dengan nama Belmez, hiduplah seorang perempuan separuh baya yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Namanya adalah Maria Gomez Camara. Ia memiliki seorang suami bernama Juan yang berprofesi sebagai petani.

Maria hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana. Penduduk sekitarpun mengenalnya sebagai tetangga yang baik.

Nah, pada tanggal itu, Maria sedang sibuk beraktifitas di rumahnya. Pada saat ia memasuki dapurnya, ia melihat sesuatu yang hampir saja membuatnya pingsan.

Di lantai dapurnya, ia melihat lukisan wajah seorang pria tergambar dengan sangat jelas !


Maria kaget bercampur ketakutan. Ia berani bersumpah kalau wajah itu tidak ada disana sebelumnya. Jadi, ia percaya bahwa ia sedang melihat manifestasi dunia roh.

Ketika berita tersebut terdengar kepada tetangga-tetangganya, seluruh desa menjadi gempar. Sekumpulan banyak orang berbondong-bondong menuju rumah Maria untuk melihat wajah menakutkan itu.

Wajah misterius itu terlihat seperti sebuah potret ekspresionis yang terlukis secara alamiah, seakan-akan Van Gogh baru saja mampir ke dapur Maria yang sederhana.

Semua takjub dengan apa yang dilihatnya.

Kalian tahu, tidak ada keluarga yang ingin ketenangan mereka terganggu. Coba bayangkan, orang banyak yang terus berdatangan, belum lagi perasaan aneh yang menghinggap karena tinggal bersama wajah tak dikenal di lantai dapur yang memandangmu dengan tatapan dingin.

Ya, akhirnya, keluarga Camara memutuskan untuk melakukan sesuatu. Enam hari setelah wajah itu muncul, Miguel, anak Maria, mengambil sebuah kapak, lalu membongkar lantai dapurnya. Setelah wajah tersebut hancur, ia menimpanya dengan semen. Nah, sekarang, kami semua bisa hidup tenang, pikirnya.

Keluarga Camara memang akhirnya berhasil hidup tenang. Tidak ada yang mengganggu istirahat mereka lagi. Tidak ada lagi perasaan aneh yang menghinggap.

Tapi...semuanya hanya berlangsung selama satu minggu. Pada tanggal 8 September, Maria masuk ke dapurnya lagi (tentu saja, ini kan aktifitas sehari-harinya) dan sekali lagi, seperti deja vu, wajah misterius itu kembali muncul.

kali ini, Maria melihat proses kemunculannya yang misterius. Perlahan-lahan, wajah itu terbentuk persis di tempat yang sama sebelumnya. Garis-garis wajahnya juga terlihat dengan jelas.

Sekarang, keluarga Camara benar-benar tidak bisa hidup tenang. Massa kembali berbondong-bondong datang ke rumahnya. Mereka ingin melihat "wajah dari dunia lain" itu. Berminggu-minggu lamanya wajah itu terlihat di lantai dapurnya. Miguel angkat tangan. Ia tidak mau lagi bersusah payah membongkar lantai dan menyemennya lagi. Jadi wajah itu dibiarkannya.

Setelah beberapa minggu, wajah itu berubah, seperti manusia yang bertambah tua, garis-garis di wajah itu mulai terlihat lebih memudar.

Nah, biasanya, ketika ada sebuah fenomena aneh yang terjadi di suatu tempat dimanapun di dunia, selalu ada smart guy yang bisa melihat kesempatan untuk melakukan sesuatu. Dalam kasus Belmez, smart guy tersebut adalah sang walikota sendiri. Ia melihat kesempatan untuk menjadikan rumah Maria sebagai atraksi untuk menarik wisatawan ke Belmez. Ia meminta lukisan wajah itu dipelihara.

Jadi figur wajah di lantai dapur Maria dipotong dan dibingkai. Lalu digantung di dekat cerobong. Miguel geleng-geleng kepala. Pikirnya, ah, ternyata saya harus menambal lantai itu lagi.

Jadi, sekarang kalian mulai bertanya-tanya dalam hati. Apakah yang sebenarnya terjadi ?

Biarkan saya menyelesaikannya. Setelah lantai itu dipotong, para sukarelawan menggali lebih dalam untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi penyebab munculnya wajah aneh itu. Setelah menggali hingga kedalaman 2,7 meter, mereka menemukan sesuatu !

Bisakah kalian menebaknya ?

Saya berpikir dalam hati, perlukah saya ceritakan apa yang ditemukan oleh mereka ? ah, bercanda. Tentu saja, saya akan memberitahukannya kepada kalian.

Pada kedalaman 2,7 meter itu, mereka menemukan Tulang belulang manusia !

Sekarang, para penduduk semakin yakin bahwa kasus ini adalah paranormal activity. Tetapi penemuan ini ternyata tidak terlalu mengejutkan mereka. Soalnya mereka mengetahui sejak lama bahwa rumah Maria berdiri di atas tanah bekas kuburan !

Oke, tulang telah ditemukan dan dikuburkan dengan selayaknya. Para arwah sudah ditenangkan. Sekarang Maria, Juan, dan Miguel bisa hidup tenang.

Ups, nanti dulu.

Dua minggu kemudian, wajah yang lain kembali muncul tepat di sampung titik munculnya wajah pertama (dan kedua). Belum sempat Maria melakukan sesuatu atas wajah tersebut, dua minggu setelah itu, wajah berikutnya kembali muncul.

Sekarang ada dua wajah di lantai Maria. Total empat wajah telah muncul. Yang aneh adalah, muncul figur wajah-wajah kecil di sekeliling wajah keempat. Ini semakin menambah misterius persoalannya.

Maria menyerah. Ia membiarkan wajah itu bertebaran di rumahnya.


Setelah itu, wajah-wajah kembali bermunculan hingga ada sekitar 18 wajah di lantai rumah Maria. Ada wajah yang terlihat sedih, ada wajah yang hanya menatap dengan tatapan kosong. Ada wajah perempuan dan ada wajah pria.

Manifestasi masing-masing wajah bisa berbeda-beda. Satu wajah terlihat seperti wajah orang muda bagi satu orang. Tapi bagi orang lain, wajah itu bisa terlihat seperti orang tua. Kadang, sebuah wajah bisa muncul dan menghilang persis di hadapan mata para penonton.

Ya, Maria, Juan dan Miguel sekarang benar-benar menyerah. Jadi mereka memutuskan untuk hidup berdampingan dengan wajah-wajah itu.

Kalian pasti juga tahu kalau di Eropa, para penduduknya kebanyakan skeptis terhadap sebuah fenomena aneh. Demikian juga di Spanyol. Jadi selain turis, para penganut sekte dan pemuja alien, rumah Maria juga sering didatangi oleh para peneliti yang mencoba mencari penjelasan alternatif atas munculnya wajah-wajah aneh itu.

Banyak peneliti itu yang percaya bahwa fenomena tersebut hanyalah rekayasa Maria untuk mendapatkan keuntungan finansial. Namun pernyataan mereka tidak didukung oleh bukti yang meyakinkan.

Sebenarnya yang didapat Maria hanyalah sebuah dapur baru yang dibangun oleh pejabat setempat. Soalnya, saking banyaknya pengunjung, Maria tidak bisa lagi menggunakan dapur itu untuk memasak dan makan. Jadi pejabat lokal yang kasihan membuatkan dapur baru untuk mereka.

Peneliti lain, seperti Institute of Ceramics and Glass, bahkan ikut-ikutan meneliti wajah itu. Mereka membawa contoh sampel semen dari rumah Maria tempat wajah itu muncul dan menelitinya di laboratorium mereka yang canggih.

Di Lab tersebut, mereka mengadakan percobaan seperti Granulometric, Mineralogical dan Chemical (memang terdengar sangat scientfic). Hasilnya, tidak ada sisa-sisa cat yang ditemukan di sampel tersebut. Mereka tidak mendapatkan jawabannya.

Walaupun tidak ada bukti yang cukup, para peneliti terus menghajar Maria dengan pendapat-pendapat mereka. Misalnya, seorang skeptis bernama Luis Ruiz Noguez yang percaya bahwa Maria dengan suatu cara melukis wajah itu dengan menggunakan unsur Zinc, Timah dan Kromium. Dengan istilah-istilah kimia yang rumit, Luis menyimpulkan bahwa fenomena wajah Belmez hanyalah sebuah rekayasa.

Yang lain, walaupun tidak menggunakan istilah-istilah kimia, tetap mengatakan bahwa wajah-wajah itu adalah hasil lukisan Maria. Menurut mereka, efek wajah seperti itu bisa diciptakan dengan menggunakan cuka dan jelaga. Tapi sayang, mereka gagal mempraktekkan bagaimana Maria membuatnya.

Bahkan, bukan hanya dari para peneliti, tantangan terhadap fenomena ini juga datang dari para paranormal sendiri. Mereka percaya bahwa wajah itu adalah hasil lukisan setelah melakukan fotografi infrared. Sekali lagi, kelompok paranormal ini juga gagal memberikan bukti yang meyakinkan.

Bayangkan ! setelah mendengar usaha-usaha super rumit yang dilakukan oleh para peneliti, saya semakin mengagumi Maria. Betapa tidak, Jika Maria benar-benar merekayasa wajah itu, alangkah cerdasnya ia, karena ia berhasil membingungkan para ilmuwan-ilmuwan hebat itu.

Pada Februari 2004, Maria meninggal dunia di usia 85 tahun. Wajah-wajah itu masih ada di lantai rumahnya. Jika wajah itu adalah hasil rekayasa, maka itu berarti Maria telah merekayasa wajah itu selama 33 tahun.

Baiklah, sekarang kalian mulai bingung. Kalian mungkin akan bertanya kepada saya apakah wajah itu adalah hasil rekayasa atau bukan. Yang bisa saya katakan adalah, para skeptis tidak punya bukti yang kuat yang bisa menunjukkan bahwa wajah itu adalah hasil rekayasa. Bagaimana mereka menjelaskan wajah yang tiba-tiba muncul di hadapan mata para penonton ?

Beberapa misteri memang tidak atau belum dapat dijelaskan, dan saya tidak merasa perlu untuk mengetahui semua jawaban atas misteri di dunia ini. Untuk kasus Belmez, saya anggap misteri ini belum terpecahkan.

Suatu hari, jika kalian punya kesempatan untuk mengunjungi Spanyol, kunjungilah rumah Belmez dan katakan kepada penghuninya : "Las Caras ?"

Maka penghuninya akan menunjukkan kepada anda wajah-wajah yang termashyur itu. Dan saya akan memberikan sedikit tips untuk kalian jika kalian ditanya mengenai wajah apa yang ingin kalian lihat. Menurut rumor, setelah maria meninggal, wajahnya juga ikut muncul di salah satu bagian lantai rumah itu. Jadi minta padanya untuk menunjukkan kepada kalian wajah Maria Gomez Camara, seorang perempuan sederhana yang telah membuat desa kecil Belmez terlihat di peta dunia.


Selamat berakhir pekan.
From: http://xfile-enigma.blogspot.com/2010/01/wajah-wajah-misterius-dari-belmez.html

Gloomy Sunday, Lagu Yang Bikin Ingin Bunuh Diri

By Unknown | At 11:57 | Label : , | 0 Comments
 
(c)huszadikszazad.hu, vasarhely.ro
Vemale.com - Di dunia ini pernah diciptakan sebuah lagu yang meledak di pasaran pada tahun 1933, Gloomy Sunday. Lirik lagu ini ditulis oleh Lazzlo Javor, dan aransemen musiknya oleh komposer serta pianis Hungaria, Rezsoe Seres. Sebenarnya lagu ini ditulis oleh Lazzlo untuk kekasihnya. Namun kejadian aneh justru terjadi pada kekasihnya itu. Sang kekasih malah ditemukan meninggal karena bunuh diri setelah lagu tersebut meledak. Di sisinya terdapat surat niatan bunuh diri yang bertuliskan, Gloomy Sunday.
Namun kejadian ini rupanya bukan satu-satunya yang mencetuskan lagu Gloomy Sunday menjadi lagu yang bisa mendorong seseorang untuk bunuh diri. Banyak kejadian bunuh diri yang menyangkut lagu Gloomy Sunday lainnya, seperti pegawai negeri Hongaria yang bunuh diri di atas lirik lagu Gloomy Sunday. Bahkan insiden mengerikan terjadi di Budapest ketika lagu Gloomy Sunday diputar di sana dan seorang pemuda kemudian menembak dirinya.
Lagu ini sempat dilarang oleh pemerintah Hongaria karena sudah memakan banyak korban. Sayangnya, lagu ini sudah terkenal hingga ke banyak negara. Inggris juga merupakan salah satu negara yang pernah melarang pemutaran lagu ini di BBC (British Broadcasting Channel). Kejadian bunuh diri juga pernah terjadi di Amerika Serikat, meski begitu negara ini tidak sampai melarang pemutaran lagu tersebut.
Ternyata bukan hanya pendengar lagu tersebut yang terdorong bunuh diri. Tahun 1968, Rezsoe Seres yang membuat aransemen musik Gloomy Sunday pun mencoba bunuh diri dengan cara terjun dari sebuah bangunan. Ia sempat dibawa ke rumah sakit, namun di sana ia mencekik dirinya sendiri hingga tewas dengan kawat.
Bagaimana sebuah lagu bisa membuat seseorang menjadi bunuh diri? Apa sebenarnya isi dari lagu tersebut? Gloomy Sunday memang menyiratkan keputusan dan kesedihan. Meski begitu, lagu ini begitu laris di pasaran meski beberapa komentar mengatakan bahwa lagu ini tidak membawa kebaikan untuk didengarkan oleh penikmat musik.
Percaya atau tidak, kita tetap tidak bisa menyebutkan bahwa lagu ini merupakan sebuah lagu kematian. Karena tidak semua orang memutuskan untuk bunuh diri setelah mendengarkan lagu ini. Bisa jadi hal itu merupakan sebuah sugesti karena perasaan sedang sangat down dan bertemu dengan lagu yang sangat mendukung. Namun hati-hati juga untuk mengontrol perasaan saat mendengarkan lagu galau semacam ini. So, jangan sampai Anda galau berlama-lama, Ladies. Apalagi sambil mendengarkan lagu Gloomy Sunday ini. Hiii...

From: http://www.vemale.com/fashion/pernik/17800-gloomy-sunday-lagu-yang-bikin-ingin-bunuh-diri.html

Rusak Nama Baik, Keluarga Tega Eksekusi Putrinya Sendiri

By Unknown | At 11:51 | Label : , | 0 Comments
(c) ShutterStock
Vemale.com - Dua orang yang saling mencintai, akan berusaha menyatukan cinta mereka agar bisa terus bersama. Rintangan dan halangan akan terus dilewati karena tidak ingin kehilangan pasangan yang dicintai. Ada pasangan yang sampai kabur dari rumah karena tidak mendapatkan restu, ada yang memilih untuk menerima kenyataan dan move on membuka kehidupan baru. Pasangan di India yang saling mencintai ini memilih pergi dari rumah, namun keputusan mereka berakhir dengan tragis.
Nidhi Barak (20 tahun), seorang mahasiswi jurusan seni rupa, dan pacarnya, Dharmender Barak (23 tahun), yang belajar di perguruan tinggi teknik tidak direstui oleh keluarga Nidhi untuk menikah. Karena tidak ingin berpisah, Nidhi dan Dharmender akhirnya kabur dari rumah dan berencana untuk kawin lari. Keluarga Nidhi marah luar biasa karena hal seperti ini sangat memalukan dan mencoreng nama baik mereka.
Keluarga Nidhi meminta Nidhi pulang dengan rayuan bahwa mereka berdua boleh menikah setelah sampai di rumah. Pasangan muda ini merasa bahagia, dan kembali ke rumahnya. Tapi bukan pernikahan indah yang mereka dapatkan, tapi eksekusi yang kejam dan disaksikan oleh penduduk desa tempat Nidhi tinggal selama ini. Keluarga Nidhi sendirilah yang meregang nyawa gadis cantik dan kekasihnya ini, karena malu dengan tindakan Nidhi.
Rabu malam (18/9) menjadi saksi bisu kisah cinta sehidup semati ini. Nidhi dipukuli hingga meninggal dan kekasihnya dipenggal di Desa Gharnavati, Negara Bagian Haryana, India. Nidhi menangis, meminta ampun pada keluarganya namun mereka menutup mata. Dharmenderpun dipenggal dengan kejam tanpa belas kasihan sedikitpun.
Jasad Nidhi kemudian dibakar oleh keluarganya dan tubuh Dharmender yang sudah patah dan penuh dengan luka dibuang di dekat rumahnya. Desa itu menjadi mencekam, dan Polisi baru mengetahui hal ini keesokan harinya. "Tindakan seperti ini sudah dilarang di India karena walaupun membuat malu, seseorang tidak boleh dihakimi seperti ini," ujar Kepala polisi setempat, Anil Kumar.
Nidhi dan Dharmender adalah korban yang kesekian oleh 'hukum adat' di India tentang mempermalukan keluarga. Ternyata di India berlaku hukum seperti ini bila salah seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang mencemarkan nama baik keluarga besarnya. Nidhi adalah gadis yang ingin berbahagia dengan orang yang dicintainya, namun kini Nidhi menjadi korban kekejaman keluarganya sendiri, ladies.
Kisah cinta Nidhi dan Dharmender tidak berakhir bahagia karena terhalang restu dan tindakan main hakim sendiri dari keluarga. Mereka meninggal dalam waktu yang berdekatan, gagal mengikat cinta mereka dalam tali pernikahan. Semoga Nidhi dan Dharmender tenang di alam sana ya ladies...

From: http://www.vemale.com/ragam/36175-rusak-nama-baik-keluarga-tega-eksekusi-putrinya-sendiri.html
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Blogroll

Comment

Blogger templates

Copyright © 2012. Berita Oke77 - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz